Tak banyak yang menganggap peristiwa ini penting. Hingga tersiar kabar lenyapnya seorang juru kamera dan dua orang awak kapal ditelan amukan badai di Perairan Arafuru, barulah peristiwa ini menjadi demikian menyita perhatian khalayak. Genap dua tahun Bagus Dwi dinyatakan hilang, sejak gempuran cuaca yang tak bersahabat pada Ekspedisi Papua 2006 silam. Tak ada yang tahu dimanakah kini sahabat kita tercinta itu berada. Hanya kuasa Tuhan yang dapat menguak tabir misterius dibalik hilangnya Bagus Dwi saat menjalankan tugas terbaiknya itu.

Tiba di bumi cendrawasih
Hari itu—Sabtu, 29 April 2006. Sesaat sebelum landing, dari ketinggian beribu-ribu kaki dapat kusaksikan gugusan pulau-pulau kecil yang berjejer di sepanjang pesisir. Tak kulewatkan pula pemandangan pasir-pasir putih yang mengilat di sepanjang bibir pantai. Hingga akhirnya Merpati itu menggilas bumi, menghentikan kepakan sayapnya, hingga yang tampak bukan lagi gugusan pulau dan kilatan pasir, melainkan sebuah bangunan yang disebut-sebut sebagai bandara.Kemudian mulut pintu pesawat menganga, memuntahkan kami dari dalam perutnya. Pagi itu langit seperti tak punya alasan untuk menghunuskan kelabunya pada bumi. Tak ada awan pekat yang bergelayut. Cerahnya langit dan hangatnya mentari pagi menyambut kedatangan kami di Bandara Domine Eduard Osok, Kota Sorong, Papua.
Adalah Raja Ampat, sebuah kepulauan yang tersohor di Papua karena keindahan alam bawah lautnya. Tentu kami tidak ingin berhenti saja pada wacana bahwa Raja Ampat memiliki khazanah yang indahnya sulit dilukiskan kata-kata. Maka kamipun bergegas menuju ke surga para penyelam itu dengan menggunakan perahu phinisi dari pelabuhan Sorong. Pemiliknya menamai perahunya itu Nur Alif.
Seperti namanya, phinisi itu bak pelita yang bersinar di tengah samudra kala langit menghunjamkan pekatnya pada bumi. Satu-satunya cahaya yang berpendar di perairan Raja Ampat di malam hari adalah phinisi kami, yang sekaligus merupakan tempat kami bernaung selama 20 hari lamanya.
Sungguh tidak terpikirkan sebelumnya, aku dapat menjadi bagian dari sebuah ekspedisi yang menggiringku hingga kesini, ke sebuah peradaban dimana manusia-manusianya dikukuhkan oleh kultur yang eksotik. Suku-suku pedalaman yang masih memegang teguh tradisi warisan leluhur, membuat ranah koteka ini menyerupai cagar budaya yang tak lekang oleh waktu. Juga kekayaan flora dan faunanya yang merupakan kombinasi antara jenis tumbuhan dan hewan dari benua asia dan benua australia, ini adalah keaneka ragaman hayati yang nyata-nyata telah memperkaya nusantara raya kita. Sungguh membukakan mata, telinga dan hati, bahwa Indonesia kita ini begitu kaya akan pesona.
Kepulauan Raja Ampat
Kepulauan Raja Ampat terdiri dari empat pulau-pulau kecil, yaitu Waigeo, Batanta, Salawati dan Misool. Dari pulau-pulau inilah nuansa bahari yang begitu kental menyeruak hingga ke telinga para penyelam di berbagai belahan dunia, membuat mereka tak mau menunggu lebih lama lagi untuk menyambangi alam bawah laut di kepulauan ini. Tak terkecuali kami, tim Ekspedisi Papua pun akan segera menyelami kemolekkan alam bawah laut Raja Ampat. Pada momentum itu, Mas Bagus (begitu sapaan untuk Bagus Dwi) masih bersama-sama dengan kami. Ia sama antusiasnya dengan kami karena akan melakukan penyelaman kami yang pertama di Raja Ampat. Kami berada dekat sekali dengan sekelompok karang-karang hidup, sekawanan pigmy seahorses dan berenang beriringan dengan ular laut (laticauda collubrina) yang sangat mengesankan, membuat kami ingin meneriakkan eureka!
Subhanallah…
Ke tiga tim ekspedisi Papua beberapa kali memisahkan diri dari perahu phinisi, karena objek liputan kami berbeda-beda. Aku dengan tim Petualangan Liar lebih memfokuskan liputan pada interaksi dengan satwa. Petualangan Bahari berkapasitas untuk melakukan lebih banyak penyelaman karena tuntutan konsep acara untuk mengeksplorasi kekayaan laut. Sedangkan tim Jejak Petualang yang menyuguhkan tayangan ragam budaya Indonesia, memilih untuk meliput prosesi ritual tradisi dan yang serupa dengan itu. Hingga akhirnya, 20 hari sudah kami tuntaskan petualangan kami di Raja Ampat, untuk kemudian bergegas ke berbagai daerah yang terbentang luas di Papua lainnya [yang tak kalah menarik dari Raja Ampat].
Hari Ke-40 di Ranah Koteka
Singkat cerita, saat itu adalah saat-saat yang paling menegangkan. Masing –masing dari kami telah dirundung kelelahan dan berada di puncak kejenuhan yang tertinggi karena telah sampai di hari ke 40 dari 50 hari peliputan yang direncanakan. Jiwa-jiwa kami telah terbawa ke pulau-pulau tak berpenghuni, beradaptasi dengan kultur yang sama sekali berbeda, berinteraksi dengan satwa-satwa liar yang sulit dijinakkan dan bergelut dengan alam yang kadang tak bersahabat. Kini aku mengerti, bahwa dalam keadaan kami yang lelah , saat itulah semangat kami diuji secara besar-besaran, tanggung jawab yang diberikan pada kami menjadi satu-satunya penabuh genderang semangat di kala letih mejalari tubuh-tubuh kami. Saat itu saya dan tim Petualangan Liar sedang berada di Taman Nasional Wasur yang terletak di utara Merauke. Wilayah konservasi ini merupakan habitat kangguru-kangguru liar, tumbuhan kantung semar, rumah semut, ular berkaki empat, kadal tak berkaki dan kadal bengkarung. Tak ada jalan pintas untuk keluar dari sini menuju pulau yang berpenghuni, tak kurang dari 4 jam melintasi rawa dan muara, perjalanan air pun hanya dapat ditempuh dengan menggunakan kano-kano berukuran sangat kecil.
Hingga akhirnya, aku dan tim Petualangan Liar tiba di sebuah perkampungan. Kami disambut oleh tentara yang berjaga-jaga di wilayah perbatasan Papua-Indonesia dan Papua-New Guinea itu. Sosok gagah berani itu menyodorkan secarik kertas yang berisikan berita duka. Sontak jiwa-jiwa kami terkoyak oleh pemberitaan itu, bahwa teman-teman kami dari tim Jejak Petualang dinyatakan hilang di Perairan Arafuru ketika akan menyambangi Timika (melalui Agats). Tim JP terdiri dari 4 orang, Dody (Produser), Medina (Presenter), Budhi dan Bagus (Kameraman).
Tak hanya itu, bahkan timku (Petualangan Liar) pun sempat diberitakan hilang karena sulit dideteksi keberadaannya selama 5 hari peliputan di Merauke kemarin. Sementara itu, tim Petualangan Bahari yang mengalami kesulitan tersendiri di Teluk Cendrawasihpun dikabarkan serupa oleh media. Ya, apapun itu, bagaimanapun kondisinya…kami semua memang didera persoalan yang sama, dirundung lelah, serta disorientasi ruang dan waktu.
Aku bersama tim Petualangan Liar yang terdiri dari Mul (Produser), Ulung (temanku sesama Presenter), Denis dan Yoga (kameraman), Muji dan Gundul (Pawang Ular) lantas terkulai usai menerima kabar itu. Tak ada yang dapat kami perbuat selain menunggu. Menunggu kabar selanjutnya dari kantor tempat kami bernaung di Jakarta.
Ada semburat tanda tanya yang urung menggeliat di benak kami. Masing-masing dari kami sibuk memetakan apa yang sebenarnya terjadi dengan Ekspedisi ini. Mengapa demikian limbungnya kami setelah pemberitaan itu, belum lagi kami sibuk memprediksikan kekhawatiran sanak keluarga kami nun jauh di kampung halaman. Pastilah perasaan teman dan keluarga kami itu carut marut tak karuan memikirkan keadaan kami disini.
Untuk mengurangi rasa khawatir, kamipun bergantian menggunakan telepon satelit untuk mengabari sanak keluarga kami. Ibu dan ayahku! adalah orang-orang yang kukabari pertama kali di saat genting itu, suaranya gemetar menandakan panik yang tak terperi, karena mendapati putrinya terjebak di situasi yang demikian sulit. Namun telah kupastikan, bahwa keadaanku disini Alhamdulillah masih berada di bawah lindungan Allah.
Kembali ke Jakarta
Saat menginjakkan kaki kembali di Jakarta, kami menghitung keseluruhan jumlah awak Ekspedisi. Jika waktu itu kami berangkat dengan semangat yang berapi-api dengan jumlah keseluruhan 22 0rang. Kini kami kembali dengan redup dengan jumlah awak ekspedisi yang hanya tinggal 21 orang. Kemanakah satu jiwa yang tak lagi menggenapkan jumlah kami ini? Kini hitungan kami ganjil adanya. Ya, Hanya 21 orang. Bagus Dwi telah hilang seiring dengan hilangnya dua awak kapal sesaat setelah badai itu menerjang perairan Arafuru. Jejak Petualang kini telah kehilangan satu sosok jiwa yang berdedikasi tinggi. Ia seperti pahlawan bagi kami, detik-detik terakhirnya ia masih saja memegang tanggung jawabnya sebagai juru kamera handal. Ia ditelan amukan badai bersama kamera dan dua orang awak kapal. Yang tak kalah tegar adalah teman-temanku dalam tim JP yang mampu bertahan hidup di Pulau Tiga (pulau yang mereka singgahi saat terdampar). Juga tim Petualangan Bahari, yang terdiri dari Wahyu (Produser), Mira (Ass-Prod), WDT dan Bayu (Kameraman), serta Septia dan Gina (Presenter) yang telah sanggup melawan semua rasa takut dan lelah di Teluk Cendrawasih.
Sungguh ini merupakan perjalanan yang tak kan kulupakan, akan terpatri dalam benak dan kuresapi dengan segala kedalaman maknanya.
Bagus Dwi hingga kini tak diketahui keberadaannya, pencarian atas dirinyapun telah lama dihentikan. Namun doa serta harapan kami tak terputus sampai disini. Kami senantiasa selalu berdoa untuk KESELAMATANMU, Mas…
Nama Bagus Dwi akan tetap berurat akar dalam jiwa-jiwa kami, untuk segenap PETUALANGAN kami…untuk langkah kami yang ‘kan terus menderap bumi…untuk nusantara kita yang luas tak terperi…untuk khatulistiwa kita yang tak kan habis dijelajahi…
Selamat jalan Bagus Dwi… [06-06-06] – [06-06-08]
